Wanita itu menghela nafas.
Ia bosan. Menjaga sebuah kuburan berukuran 3 lapangan bola itu sungguh membosankan. Bukan seperti dia untuk merasa bosan dan tidak melakukan apa-apa. Biasanya ia akan makan. Makan, makan, dan makan. Sebuah hobi -atau lebih ke kebiasaan- yang telah dimilikinya dari dulu. Ia dijuluki 'repulsive food-eater' oleh para 'makanan' yang kini telah bersarang di perutnya. Dia yang di takuti oleh setiap orang. Dia yang 'dulu'. Dia yang belum ber-reinkarnasi. Dia yang kini telaah menjadi wadah untuk gelas merah Conchita. Dia yang telah menjadi seorang [Master of Graveyard]
Penjaga pemakaman di tengah hutan. Dimana di tengah hutan terdapat sebuah teater tua.
Sidang sedang berlangsung, ia bilang. Pelaku yang di sidang adalah seorang pria bermata satu yang berani datang kemari mencari cara untuk menghilangkan kutukan yang ia miliki. Persetan dengan kutukan. Ia tak tahu apa yang akan ia dapatkan. Bukanlah sebuah cara untuk menghancurkan kutukan, namun sebuah tiket menuju mulut seorang Conchita.
Jujur. Conchita merasa kesal.
Kesal jika ada sidang berlangsung. Sidang yang dipimpin oleh 'anak' dari sang tuan teater. Ia kesal pada seorang 'ahli sihir' waktu yang memerintah seorang Conchita menjadi bagian pertahanan dari hutan ini. Masa bodoh dengan sidang, yang jelas kini sang master of graveyard sedang bosan.
Hingga ia melihat sekelebat bayangan melintasi pepohanan.
Mangsa.
Rupanya bukan hanya dia yang melihatnya, kedua pelayan setia dan loyal miliknya dengan lihai segera angkat kaki dari tempat mereka, berlari cepat bagai seekor jaguar mentargetkan rusa sebagai makan malamnya. Conchita tersenyum. Membuka parasolnya, ia berjalan dengan elegan di bawah siraman sinar rembulan malam yang bersinar merah malam ini. Akan ada sebuah nyawa pergi dari raganya malam ini. Menjejakkan kakinya, menelusuri rerumputan basah dan nisan-nisan terabaikan di tengah hutan ini, Vanika Conchita menuju makan malamnya.
Haruskah ia melaporkan ini pada 'sang jiwa adam'? Hell, yang ada di pikirannya adalah bolehkan ia menjadi egois dan menyantap manusia malanh yang seenaknya memasuki wilayahnya tanpa izin.
Conchita tertawa.
Memandang jijik seorang pria yang -terpaksa, ya kedua pelayan loyal menahannya- bersujud di ujung sepatu merah wanita itu. Dagu sang pria mencium rerumputan, sementara badannya tertahan oleh kedua pelayan wanita itu -yang kini tersenyum maniak- dan tangannya di kunci di belakang tubuhnya. Mata sang pria memandang benci pada sosok serba merah wanita di depannya.
Inilah bagian kesukaan Conchita.
"Ohohoho, welcome to Evil's Forest!"
Setidaknya wanita itu tidak menghela nafas bosan lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar