“Pah, kita kapan
kaya yah?”
“Ya kapan-kapan, kalo
kerjaan papa sukses.”
“Lah kapan
suksesnya?”
“Ya kalo waktunya.”
“...”
“Kalo kerjaan papa
diterima, proyek apartemennya berhasil. Makanya doain dong.”
“Selalu kok.
Terus kalo berhasil jadi kaya?”
“Ya ngga tau.
Tergantung apa kata Allah.”
“Hm hm...”
“Lagian jadi orang
kaya ngga enak.”
“Enak enak aja
ah.”
“Ngga lagi. Enakan
jadi orang serba cukup.”
“Serba cukup?
Sederhana dan pas-pasan gitu? Iya si-”
“Yaa serba cukup kalo
mau ngapa-ngapain.”
“Eh?”
“Beli rumah baru
cukup, beli mobil baru cukup.”
“Ooohoh!
Jalan-jalan ke Jepang juga cukup yah?”
“Iya dong. Nggak usah
ke Jepang, ke Amrik seminggu sekali juga cukup.”
“Mantaaaab.”
“Beli Ferarri per
minggu cukup.”
“Azeek. Garasi
di gedein dong.”
“Iya dong. Segede
lapangan bola, segede lapangan udara juga cukup.”
“Gede bener.”
“Ya kan
perumpamaan...”
“Oho... Nah,
Kapan kita jadi orang serba cukup?”
.
.
.
.
“...ya kalau
waktunya.”
A conversation
between me and my dad about ‘kapan jadi orang kaya.’.

ni....
BalasHapus