Dare?

Foto saya
kecebong yang terdampar di tengah keramaian dunia

Sabtu, 09 Juni 2012

When...


“Pah, kita kapan kaya yah?”
“Ya kapan-kapan, kalo kerjaan papa sukses.”
“Lah kapan suksesnya?”
“Ya kalo waktunya.”
“...”
“Kalo kerjaan papa diterima, proyek apartemennya berhasil. Makanya doain dong.”
“Selalu kok. Terus kalo berhasil jadi kaya?”
“Ya ngga tau. Tergantung apa kata Allah.”
“Hm hm...”
“Lagian jadi orang kaya ngga enak.”
“Enak enak aja ah.”
“Ngga lagi. Enakan jadi orang serba cukup.”
“Serba cukup? Sederhana dan pas-pasan gitu? Iya si-”
“Yaa serba cukup kalo mau ngapa-ngapain.”
“Eh?”
“Beli rumah baru cukup, beli mobil baru cukup.”
“Ooohoh! Jalan-jalan ke Jepang juga cukup yah?”
“Iya dong. Nggak usah ke Jepang, ke Amrik seminggu sekali juga cukup.”
“Mantaaaab.”
“Beli Ferarri per minggu cukup.”
“Azeek. Garasi di gedein dong.”
“Iya dong. Segede lapangan bola, segede lapangan udara juga cukup.”
“Gede bener.”
“Ya kan perumpamaan...”
“Oho... Nah, Kapan kita jadi orang serba cukup?”
.
.
.
.
“...ya kalau waktunya.”

A conversation between me and my dad about kapan jadi orang kaya.’.

1 komentar: